4. Analisis
4.1 Proses, Lingkungan Korosif, dan Titik Kritis
Rantai proses refined carrageenan tipikal: pretreatment alkali, ekstraksi panas, netralisasi, bleaching/pemurnian, pengentalan/presipitasi,
pengeringan, serta siklus CIP. Faktor pemicu korosi: ion klorida yang tinggi (asal bahan baku/garam), suhu elevasi saat ekstraksi,
pH ekstrem (alkali/acid shock), oksidator (bleach/biocide), kecepatan alir dan padatan tersuspensi (erosi-korosi), serta stagnasi pada dead leg/crevice.
Hotspot lazim: flensa, downstream pompa/penukar panas, tee/branch, low-flow area, dan zona deposit.
4.2 Material dan Mekanisme Kerusakan
- Uniform thinning pada baja karbon di media agresif/teroksidasi; mitigasi: lining/pelapisan dan kontrol kimia.
- Pitting/crevice corrosion pada stainless austenitik (316L) di klorida; diperparah suhu/pH rendah; PREN lebih tinggi (duplex 2205/2507, 904L) umumnya meningkatkan ketahanan.
- MIC (microbiologically influenced corrosion) pada kondisi biofilm/stagnasi; perhatian pada transien start-up/CIP.
- Chloride SCC pada austenitik pada suhu lebih tinggi dan tegangan residual/operasi; mitigasi: material alternatif (duplex), stress relief, kontrol suhu/Cl−.
- Erosi-korosi pada aliran tinggi/partikulat; mitigasi: desain kecepatan, geometri, dan perlindungan permukaan.
4.3 Metode Pengukuran Laju Korosi dan Inspeksi
Kombinasi metode dianjurkan untuk menangkap dinamika jangka pendek dan tren jangka panjang:
- Kupon kehilangan berat (ASTM G31): akurat untuk rata-rata jangka waktu tertentu; butuh periode eksposur memadai.
- LPR/EIS (ASTM G59/G102): respons cepat, sensitif terhadap perubahan; perlu kalibrasi/validasi media multiphase/pH ekstrem.
- UT thickness (ASTM E797): memetakan thinning/pitting; gunakan grid pada spool kritis; perhatikan sanitasi/hygienic design.
Rencana baseline 3–6 bulan: pasang kupon di inlet/ekstraksi/return, titik LPR representatif, dan grid UT bulanan pada spool pasca-HE/pompa.
Dokumentasi dengan foto, koordinat grid, dan chain-of-custody sampel kupon.
4.4 RLA dan Kerangka Standar
Alur RLA mengikuti API 579-1/ASME FFS-1 untuk general metal loss dan pitting lokal, terintegrasi dengan API 570 (inspeksi pipa in-service)
dan ASME B31.3 (batas tegangan/desain). Data kunci: t_actual, t_min, corrosion allowance, laju korosi (instantaneous vs long-term), MAWP,
joint efficiency/quality factor. Hasil inti: remaining life dan verifikasi MAWP.
Kalkulator Sederhana Remaining Life (Ilustratif)
Remaining life (RL) = (t_actual − t_min)/CR
Catatan: Contoh numerik ilustratif; evaluasi final mengikuti prosedur Level 1–2 API 579-1/ASME FFS-1 dan validasi data lapangan.
4.5 HSSE, Regulasi Indonesia, dan Dampak Ekonomi
- Risiko HSSE: kebocoran media panas/korosif (cedera termal/kimia), slip, kontaminasi produk/lingkungan; kontrol: integritas peralatan, proteksi, SOP tanggap darurat.
- Regulasi: K3 (Kemnaker), persyaratan BPOM untuk material peralatan kontak pangan, serta standar inspeksi/operasi pipa proses.
- Ekonomi lokal Pinrang/Sulsel: industri rumput laut berkontribusi pada nilai tambah/tenaga kerja; downtime berdampak pada output, scrap, biaya perbaikan, denda, dan reputasi.
4.6 Analisis Komparatif
Secara umum: SS 316L cocok untuk lingkungan moderat klorida/rendah suhu; duplex 2205/2507 meningkat signifikan pada resistensi pitting/SCC;
904L menawarkan ketahanan lebih baik terhadap pitting dibanding 316L; baja karbon memerlukan pelapisan/lining dengan QA/QC ketat.
Pemilihan akhir mempertimbangkan Cl−, suhu, pH, tegangan, hygiene, OPEX (CIP/inhibitor), dan risiko HSSE/produk.